Imam Samudra! Siapa tak mengenalnya, nama yang begitu melejit, nyaris menjadi bahan pergunjingan di seantero dunia pasca peledakan bom di Legian Kuta Bali. Berbagai pendapat dan prejudice bahkan sumpah serapah pun meluncur bak air hujan, menanggapi perilaku sang tokoh. Akan tetapi bagaimana tanggapannya? Dari balik jeruji besi dan tembok-tembok penyiksaan, sembari menunggu proses eksekusi atas ganjaran pidana mati, ia menorehkan catatan harian. Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik atas apa yang ia dan kawan-kawannya lakukan di Bali pada 12 Oktober 2002, yang menurutnya tak lain sebagai bentuk reaksi perlawanan terhadap bangsa penindas Amerika dan sekutunya, yang oleh Amnesti Internasional dikaruniai “penghargaan” sebagai pelanggar HAM terburuk selama 50 tahun terakhir. “Saya melakukan jihad pada titik-titik ikhtilaf.” Demikian tulisnya, sebuah ungkapan kesadaran akan begitu kontroversialnya jalan yang ia tempuh, dari sekian ragam jalan yang ditempuh oleh umat Islam. Agaknya ungkapan ini mewakili metode pemahaman yang ia anut. Apa itu? Ia menjelaskan dalam buku ini. Setuju atau tidak, buku Imam Samudra, Aku Melawan Teroris, tetap menarik untuk dibaca. Sebagai upaya mengenal lebih jauh, apa dan siapa Imam Samudra dan orang-orang seperti mereka. Dengan gaya penulisan yang bertutur, gaul, reflektif, bahkan jenaka, menjadikan kita mudah ‘melihat secara utuh’ gagasan ide yang ia tawarkan.
|