Paridah binti Abbas, istri tokoh peledakan Bom Bali, Ali Ghufron alias Mukhlas, menuturkan sepenggal episode kehidupannya, semenjak dia menyandang status sebagai seorang single parent, bagi kelima anaknya dan pada saat yang sama melahirkan anak keenamnya, Usamah. Ditengah proses persidangan kasusnya. Dengan gaya bahasa yang mengalir bebas, warga Malaysia kelahiran Singapura ini menceritakan melodrama kehidupannya sebagai seorang single parent, dan perjuangannya dalam menyelamatkan anak-anaknya—hartanya yang tersisa—setelah ia “kehilangan” suaminya. Bisa dikatakan jika dirinya memang sangat unik, unik karena sesuai persepsi kebanyakan orang seorang wanita bercadar dan berpakaian serba hitam, selalu dikatakan tertutup, dingin, kaku dan sebagainya, tetapi beliau mampu menggambarkan berbagai perjalanan kehidupannya dengan begitu renyah dan mengalir lincah, bak penulis novel kawakan. Kemampuan beliau itu agaknya tak begitu mengherankan sebagai mana pernyataan pengacaranya, Vera Kartika Giantari, SH, yang mengatakan “Bila mengenal sosoknya maka tidak terlalu mengherankan sebenarnya kalau Paridah memiliki kemampuan menulis seperti yang disajikan dalam buku ini.” Yang jelas, buku ini ditulis sebagai gambaran nyata potret, kaum muslimah yang merasakan akibat kehilangan suami akibat penerapan undang-undang antiteror, dan upaya-upaya mengatasinya permasalahannya. Tanpa diikuti keinginan untuk meminta belas kasihan-apalagi dikasihani- buku ini seakan menunjukkan secara utuh bagaimana perjuangan kaum perempuan ‘bercadar’ dalam menghadapi perang antiteror yang menimpa keluarga dan suaminya. Selamat membaca!!
|