Halaman Depan
Katalog
Buku Tamu
Hubungi Kami

Jazera Update
Katalog Jazera arrow Menanti Ajal Israel



Menanti Ajal Israel

Penulis:
Ukuran: 23 x 15,5 cm ; 192 hal
Harga: Rp. 25.000,00


Ternyata, para petinggi negara-negara dominan di dunia seperti Amerika, Israel dan Eropa tidak kering dari teks-teks suci (sacred text) dalam mengambil sebuah kebijakan. Terutama, kebijakan menyangkut politik di Timur-Tengah. Atas nama teks suci, yang tentu saja telah didistorsi, mereka sering mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka mengklaim sebagai reinkarnasi dari Juru Selamat dan kelompok yang dijanjikan  dalam nubuat (ramalan kenabian). Dan karena merasa ssebagai amal suci, mereka merasa bisa berbuat apa saja. terbitlah kebijakan tidak populer seperti pendudukan Palestina, invasi ke Irak dan policy naif lain.

 

Naifnya, kebijakan yang sering meminta tumbal darah umat Islam itu, berasal dari sebuah tafsir yang keliru. Mereka salah dalam menerapkan teks-teks suci tersebut ke dalam kenyataan aktual. Israel misalnya, merasa sebagai “bangsa terpilih yang harus dilayani dan menjadi tuan bagi seluruh bangsa.” Padahal, dengan melakukan pembacaan yang teliti dan kritis akan kitab suci mereka sendiri, Israel lebih dekat sebagai perwujudan “rijsatul kharab”; negeri najis perusak yang dikumpulkan untuk mendapat kutukan Tuhan.

 

Dr. Safar Al-Hawali, doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Makkah, mengkritik habis kelucuan argumentasi mereka, justru dari kitab mereka sendiri. Buku ini sekaligus membantu kita untuk memahami arah politik global dari sisi yang agak lain.  Buku yang ditulis oleh beliau ini mengandung berita gembira, khususnya bagi kaum lemah di negeri jajahan; Palestina, dan bagi ummat Islam secara umum.

 

Meski begitu, buku ini tidak ditulis untuk memberi penghiburan bagi mereka.

Sungguh, di dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah, telah banyak tercantum berita gembira yang justru lebih shahih dan sangat layak untuk diyakini. Sementara, berita gembira selain dari sumber di atas, memiliki ketentuan-ketentuan dan kode etik yang ketat.

 

Dengan demikian, substansi dari buku ini tidaklah merepresentasikan akidah orang Islam—sebagaimana disangka oleh para pembaca baik dari kalangan ahli kitab, orang Islam dan lainnya—akan tetapi buku ini ditulis untuk menghadapi argumentasi fundamental musuh kemanusian sejati; zionisme dalam dua wajah: Yahudi dan Kristen Radikal. Itulah musuh yang selama ini menyibukkan dunia, dan memenuhinya dengan ramalan-ramalan kitabiah, terutama pasca meletusnya intifadhah bulan Rajab.

 

Kajian nubuat merupakan salah satu materi pembahasan pada studi futuristik. Hanya, nubuat itu sendiri, seperti halnya pemikiran; kadang benar dan kadang keliru. Adalah menjadi hak pembaca umum untuk mendapatkan pandangan lain pada tema yang berbahaya ini. Juga menjadi hak pembaca muslim untuk menuntut agar hati-hati dalam “pertempuran” panjang lagi pelik ini. Wujud kehati-hatian saya adalah dengan melakukan kajian tematik atas dasar-dasar pijakan akidah musuh, sekaligus  kepribadian dan tingkah laku mereka, dengan menggali dari sumber-sumber dan literatur mereka sendiri, yang selama ini menjadi landasan spiritual dan dasar keimanan yang mereka yakini.

 

Dan, sebagai pakar aqidah, beliau tidak sedang ber-akidah ala mereka, melainkan tengah mengartikulasikan firman Allah:

"Datangkanlah Taurat, dan bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar". (Ali Imran: 93), sebagaimana yang dijelaskan sendiri oleh beliau,

 “Ketika melakukan pekerjaan ini, sesungguhnya kami tidaklah melakukan hal yang baru. Kami hanyalah mengartikulasikan metode Al Qur’an yang mengajarkan kepada kita untuk merujuk kepada sumber ahli kitab dalam konteks menegakkan hujjah untuk menetapkan siapa sesungguhnya si pendusta. Seperti kita ketahui, mereka selalu menyembunyikan kebenaran dan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan meskipun mereka mengetahui.”

 

Berdasarkan kajian tersebut, Penulis menyimpulkan bahwa, bercokolnya Israel di Palestina bukanlah sebagai mengikuti jadual Allah sebagai bangsa terpilih sebagaimana klaim mereka. Justru karakter dan tingkah laku mereka lebih tepat dengan apa yang diistilahkan Rijsatul Kharab (Negeri Najis) yang akan dikutuk Tuhan.

 

Jika berdirinya Rijsatul Kharab berdasarkan kitabiah adalah 1967 (2300 M – 333 SM), maka ini adalah angka yang pas atas berdirinya Israel di Palestina. Kini, prediksi kitabiah yang tengah ditunggu adalah 45 tahun setelah angka tersebut, sebagai jarak antara era kesedihan dan kelapangan dalam nubuat Daniel. Dus, akankah negeri Israel akan tamat pada 1967 + 45 = 2012 M? Hanya Allah yang tahu. Dan kita berharap demikian, dan semoga lebih cepat lagi. Amin